Selasa, 03 September 2013

Kegiatan seminari




Seminari Christus Sacerdos

“GOOO….OOLLL !!!!

Sabtu, 21. Maret 2009 pada 9:48 
Pada hari Senin tepatnya tanggal 9 Juni 2008, 15 kesatria dari Seminari akan memulai perjuangan live-in mereka melayani orang-orang cacat dan tua. Seorang dari ke-15 kesatria itu, berasal dari Tanah Karo. Namanya memang keren sama seperti orangnya. His name is Jeffrianus Ginting. Pasti anda mengenalnya bukan??? Jawab dalam hati anda.
            To the point aja yach!!!”
Aku bangun dari tidurku pagi itu, dan ikut dalam Perayaan Misa Perutusan Live in itu yang dibawakan oleh Pastor Ramli. Selesai Misa, kami sarapan dan pada pukul 09.00 Wib, kami mulai melakukan perjalanan menuju tempat-tempat yang telah ditentukan bagi kami masing-masing. Aku tidak sendirian. Aku ditemani oleh 3 orang Seminaris. Kami berempat ditempatkan di suatu Yayasan Tuna Netra yang ada di Medan. Lokasinya kami tidak tahu sama sekali.
Sesampainya di Amplas, Medan, kami berempat seperti orang-orang yang nyasar dan tidak ada tujuan. Tapi dengan penuh keberanian, kami bertanya kepada orang-orang yang  ada di Amplas itu. Untunglah mereka memberitahu letak Yayasan itu.
Pada pukul 14.00 Wib, kami tiba di yayasan itu. Aku membaca nama yayasan itu dan tertulis Yayasan Karya Murni Tuna Netra Medan Johor. Kami masuk ke dalam dan kami disambut dengan hangat. Dengan sambutan itu, akupun sah memulai kegiatan live- in-ku. Kegiatan itu berlangsung selama 2 minggu. Jadi, aku akan hidup bersama orang-orang yang tidak melihatku selama 2 minggu.
Setelah beberapa hari tinggal di sana, aku merasa mulai betah.



Suatu ketika, tepatnya hari Senin sore, aku diajaki oleh penghuni Yayasan itu bermain bola. Aku terkejut sekaligus bingung, bagaimana mungkin orang buta bisa bermain bola. Tapi untuk membuktikan itu akupun ikut bermain bola bersama mereka.
            Sesampainya di lapangan aku diajak oleh mereka untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Pemanasan yang kami lakukan adalah duduk-duduk dan cerita-cerita dengan jangka waktu yang agak lama. Sesudah sedikit bosan, permain dimulai. Bolanya adalah bola atom yang telah diisi sedikit pasir. Jumlah pemain 5 orang. Satu kipper, 2 orang bek, dan 2 orang penyerang.
Sebelum pertandingan dimulai, aku terkejut melihat posisi yang kami buat. Aku melihat penyerang kami orang buta, dan kipper kami juga buta. Sebelum permainan dimulai, seorang karyawan Yayasan itu, memberitahukan kepadaku, bagaimana cara bermain bersama mereka dan  memberitahukan aturan-aturannya:
-         Orang normal tidak bisa menggolkan, walaupun golnya tidak sengaja tetap saja tidak sah
-         Pelanggaran tidak diberi kartu apapun
-         Cedera tanggung sendiri
-         Tidak ada off-side
Setelah pemberitahuan aturan main tersebut, permainanpun dimulai. Baru beberapa menit bermain, gawang kami sudah kebobolan bola karena lawan kami merebut bola dari penyerang kami dan membawanya ke depan gawang kami. Kiper kami tidak melihat bola sudah di depannya walaupun aku sudah berteriak-teriak. Skor sementara 1-0.
Sepuluh menit kemudian, aku menggiring bola dengan kecepatan  20 m/detik, seraya menuntun penyerang kami ke gawang lawan. Ketika kami tiba di gawang lawan, aku langsung menyerahkan bola kepada penyerang kami. Ia melakukan tendangan yang sangat keras. Bolanya nyaris tidak masuk. Namun skor akhirnya imbang 1 – 1.
Pertandinganpun dilanjutkan dengan suasana semakin panas dan seru. Para penyerang adu kaki karena tidak dapat membedakan kaki atau bola. Bek siap menerkam lawan, dan kipper berdiri tegak di gawangnya dengan memegang tongkat kesayangannya.
Kembali lagi aku membawa bola. Dengan kocekan  yang menawan, aku berhasil melewati bek-bek lawan, dan tiba di depan gawang lawan dan siap untuk menggolkan.
Tapi sayang, walaupun sudah berada di depan gawang lawan, aku tetap tidak dapat menggolkan. Aku berteriak memanggil penyerang kami, supaya dia yang menggolkan. Dia berlari kencang dari tengah lapangan sambil mencari-cari arah suara itu. Untunglah telinganya bagus. Sesampainya dia di depanku, aku langsung menyerahkan bola kepadanya. Dengan tendangan ala Pele, ia merobek gawang lawan. Aku memberitahu kepada penyerang bahwa bola sudah bersarang ke gawang lawan. Dia sangat senang dan memelukku erat-erat. Skor akhirnya menjadi 2-1 dan kami unggul.
Sewaktu pertandingan  kembali berlangsung, seorang penyerang lawan mengalami cedera. Jarinya mengeluarkan darah. Akhirnya pertandingan usai, kami menjadi pemenang. Kami kembali ke Yayasan dengan penuh gembira. Itulah salah satu pengalaman yang menyenangkan bagiku dalam live-in tersebut. Trims


Botou…., oh Botou….

Minggu, 26. Oktober 2008 pada 8:01
             Minggu, 26 Oktober 2008, malam ini di aula Universitas HKBP Nommensen sebuah kisah tragis akan terulang lagi setelah tahun sebelumnya digemparkan oleh pembunuhan yang didalangi Guru Saman. Malam ini, akan dikisahkan lagi riwayat seorang gadis cantik yang selalu dirundung kesedihan akibat ulah botounya dan akhirnya menjelma menjadi sebatang pohon enau. Puang Boru Sobou,  sebuah pementasan opera Simalungun yang dipentaskan berdasarkan turi-turian Simalungun.

             Selain menampilkan kebolehannya dalam mementaskan drama karya sutradara Kh. Ibra Harahap ini, para seminaris juga akan mempertunjukkan jiwa seninya melalui seni musik yang ditangani oleh bapak Panjotik Silaen dan bapak Fernandus Sinaga. Hmmm, bagi anda yang gemar marmitu, akan ada sebuah kejutan bagi anda nanti malam. Apa kejutannya? Yang jelas jika sudah diberitahu sebelumnya pasti bukan kejutan lagi namanya.

            Jadi, bagi anda para pencinta budaya, khususnya budaya Simalungun, malam ini Seminari Menengah Pematangsiantar Christus Sacerdos, yang didukung oleh SMA Budi Mulia dan SMA Bintang Timur , akan mencoba memuaskan dahaga anda akan kehadiran budaya tradisional.
Selamat menyaksikan persembahan kami, horas ma bai na siam!!! (paunk)

 

Seminari St. Petrus Sibolga 

HUT Seminari Menengah St. Petrus Sibolga

                 Horas- Ya’ahowu
“Kami bergembira sebab kami sedang berpesta. Datanglah bersama kami dan lihatlah”. Kiranya kutiban ini mewakili acara penyambutan  Mgr Ludovicus Simanullag, OFM.Cap dan tamu. Selamat datang itu diuangkapkan dengan satu suguhan horas-ya’ahowu-nya, Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM), yang dimulai di gerbang Seminari sampai depan pastoran. Bagaikan seninya manortor atau  (tarian nias….), seminaris menyambut pemilik Lembaga ini. Maranatha! Tuhan datang!

               Ke Depan Altar-Mu Tuhan
Usai penyambutan, kegiatan dilanjutkan dengan perarakan menuju Kapel Seminari untuk merayakan Ekaristi Kudus. Perayaan Ekaristi dimulai pukul 17.00 wib, yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Sibolga, Mgr. Ludovicus Simanullang OFMCap, didampingi oleh  sembilan imam konselebran.
Bersamaan dengan perayaan Ekaristi syukuran Dies Natalis ke-24, juga penerimaan Sakramen Krisma / Penguatan untuk 20 orang yakni 19 Krismawan dari kelas Gramatica dan KPA Seminari Menengah St. Petrus dan 1 orang Krismawati dari Postulan OSF Pandan.

                Dalam khotbahnya, Mgr. Ludovicus menghimbau agar para Seminaris mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh dengan mengikuti ritme aturan yang telah ada dan berlaku di Seminari. “Seperti Rasul Petrus menasehati para Penatua Jemaat agar melayani umat itu dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, bukan karena terpaksa atau jangan karena mau mencari keuntungan pribadi, tetapi dengan pengabdian diri secara utuh. (bdk 1 Petrus 5: 1-2) Maka dari itu, para Seminaris hendaknya belajar menjadi pengikut Kristus dan menyerahkan diri seutuhnya dalam  iman dan pengharapan yang teguh, sehingga kelak menjadi gembala tangguh sesuai dengan kata – kata Rasul Petrus kepada para Penatua!” tutur Mgr. Ludovicus dalam khotbahnya.

                 Usai khotbahnya, Bapak Uskup menerimakan Sakramen Krisma kepada 20 umat itu.  Penerimaan Krisma itu makin syahdu oleh syair  lagu Roh Kudus dari para Seminaris yang memoles ritualnya makin sakramental dan agung. Dan  Peristiwa ini akan terkenang abadi untuk 20 krismawan/ti, bersama walinya bpk Gregorius Simbolon dan ibu Rosna br Situmorang.

                 Di Meja Makan Seminaris; ada B2 dan Simbi
Seperti biasanya, seusai dikuatkan oleh santapan Rohani para undangan pun diarahkan ke ruang perjamuan malam yang telah dipersiapkan. Tamu yang berasal dari beberapa tempat itu, saatnya dipersatukan dalam perjamuan malam untuk menguatkan fisik dengan menikmati hidangan yang telah disajikan.

                 Ini Rumah Kami;Lebih Baik di Sini.
Pada HUT Seminari ke-24 ini, Panitia pesta serta jajarannya memilih tema “Tuhan, Jika Engkau itu, Suruhlah Aku Datang Kepada-Mu”. Mengapa? “Kami memilih tema ini, karena banyak di antara kami, para Seminaris masih ragu-ragu untuk melanjutkan panggilan hidup sebagai calon imam!” demikian tutur ketua Panitia, Parsaoran Parhusip. “Kami sangat berharap kepada umat agar memberikan dukungan kepada kami semua!” harapnya mengakhiri kata sambutannya.

                  Seminaris dan undangan secara bergantian membawakan acaranya berupa puisi, nyanyian dan tarian. Nampaklah suasana gembira dari pesta ini. Acara ramah tamah diselingi dengan sambutan-sambutan. Banyak kata nasehat terlontar dari ceramah-ceramah itu. Ketua presidium, mewakili seminaris menandaskan sebuah pujian tersembunyi sekalian kagum pada kinerja panitia yang merancang acara Dies Natalis tahun ini menjadi semarak. “Luar biasa” katanya.

                   Pada sesi lain, bpk Taronggal Sitinjak, mewakili undangan mengatakan bahwa keberadaan Seminari St. Petrus Aek Tolang harusnya bisa menghasilkan imam baru setiap tahunnya. Akan tetapi kenyataannya, sampai saat ini belum bisa memenuhi harapan Gereja. Sebab hanya sedikit tamatan dari SMA Seminari St Petrus – Aek Tolang yang melanjutkan pendidikannya menjadi imam. Tamatan Seminari tidak yakin pada panggilannya dan kembali menjadi awam, demikian pengalaman staff pengajar SMA St. Fransiskus Pandan ini.

                  Salah satu alasan yang mempengaruhi pendidikan calon imam dewasa ini adalah kemajuan zaman dan teknologi. Era IPTEK ternyata ikut serta mempengaruhi pendidikan calon imam. Hal itu membuat para staff benar-benar kesulitan untuk mendidik para Seminaris menjadi orang yang disiplin dan teratur. “Mendidik calon imam dewasa ini tidak mudah. Hal itu ditunjukkan oleh jumlah Seminaris yang sedikit!” keluh Rektor sembari memanggil 4 siswa yang tersisa dari 24 orang dari angkatan 2009-2013. “Kami mengharapkan kepada orangtua untuk mempersembahkan anaknya untuk dibina menjadi calon imam, karena dewasa ini, orangtua cenderung mengharapkan anak untuk memberi cucu, uang dan lain sebagainya!” ujar Rektor dalam sambutannya. “Maka dari mulut ke mulut, hendaknya disampaikan berita ini kepada kaum muda sehingga mau mengikuti panggilan Ilahi dari Tuhan di tempat ini!” harapnya sembari tersenyum.
Semakin banyak yang mencalonkan diri untuk dibina, maka semakin banyak pula imam baru yang meneruskan karya penggembalaan dari Yesus sendiri. Sehingga harapan dan kerinduan umat akan imam baru dapat terjawab. Sedangkan Mgr Ludovicus menegaskan keprihatinan umum akan kekurangan tenaga imam di Keuskupan Sibolga. Sambil menyebut nama beberapa imam lanjut usia seperti P. Cristof Jansen, OFMCap dan P. Gratianus Tinambunan OFMCap, Uskup yang sedang menjalankan tahun ke enam masa Episcopalnya menyuarakan suara kegembalaannya untuk umat Keuskupan Sibolga agar turut prihatin bersama Gereja lokal akan tenaga pastoral tertahbis. Sumbangkan putra-putera terbaik untuk kebutuhan Injil.
                   Penulis setuju dengan semua pendapat mereka. Kita memang masih kekurangan tenaga imam. Lebih baik   mengisi kekurangan pekerja di rumah kita. “ Ini rumah kita, sederhana dan terbuat dari bambu, tetapi ini rumah kita…Lebih baik di sini…rumah kita sendiri.
Oleh : Rajanasusa Hasugian





Download

0 komentar:

Posting Komentar